Menulis, Salah Satu Cara untuk Berbagi

Foto : Amino Anime

Ada yang suka menulis? Atau hobi menulis? Atau punya profesi yang berhubungan dengan menulis? Atau malah ada yang punya ketiganya?

Bagi kalian, menulis itu artinya apa sih? Buat apa sih?

Apakah cuma sekedar hobi untuk melepas penat, atau cuma sekedar kewajiban saja, misalnya untuk para pelajar. Atau yang lainnya? Coba tuliskan ya.

Bagi saya sendiri, menulis itu adalah sebuah cara untuk menghasilkan uang, menuangkan isi pikiran dan hati, juga sebagai media untuk berbagi. Tetapi di tulisan ini, saya hanya akan membahas tentang tulisan sebagai media berbagi. Itu pun hanya sedikit saja.

Kenapa saya bisa menyebut menulis sebagai salah satu cara untuk berbagi? Ya, karena saya telah melihat orang lain, dan saya melakukan hal itu sendiri. Berbagi lewat tulisan itu, pastinya bukan dalam bentuk materi ya, tapi ilmu atau nasihat, informasi juga berita.

Nah, ini adalah salah satu arti menulis bagi saya. Dalam menulis, selain membagikan isi hati dan pikiran, saya juga sedikit berusaha untuk berbagi dengan orang banyak, misalnya informasi, nasihat, motivasi. Dan itu semua lewat tulisan. Karena memang saya tidak (belum) bisa berbagi lewat materi atau uang, jadi menulis menjadi salah satu cara saya, untuk berbagi dengan orang banyak. Yang inshaa Allah bermanfaat. Aamiin.

Yah, walaupun saya sendiri juga masih perlu banyak belajar, perlu nasihat, pembimbing, guru dan sebagainya. Tetapi, tidak ada salahnya juga, ketika kita mendapat suatu ilmu atau informasi (yang valid), dibagikan kepada orang banyak. Karena siapa tahu, ada yang membutuhkannya.

Atau sekedar kata nasihat, kalimat motivasi, walaupun tampak sepele, tidak mengapa. Terkadang hal sederhana, menjadi hal atau memberi dampak luar biasa jika itu hal positif.

Tetapi, untuk berbagi lewat tulisan, jangan lupa untuk banyak membaca juga ya, agar wawasan kita bertambah. Baca motivasi, nasihat dan cerita-cerita yang positif. Jangan baca berita hoax, meragukan, gosip atau cerita-cerita yang membuat kita rapuh alias down. Karena terkadang, apa yang kita baca, bisa mempengaruhi diri kita lho.

So, silahkan berbagi dengan caramu, silahkan sebarkan kebaikan, meskipun jika kita bukan orang baik. Walau sepele, jika berguna, mengapa tidak?

Terima kasih!

Carita Kuring, Soal Dirunghal

Foto : memegenerator

Pertama na mah, kuring te nyaho nu ngarana istilah ‘runghal’ teh. Da karak ngadangu, tapi, pas kapungkur ngalaman sorangan, jadi ngarti. Kie caritananya, lur. Kuring teh anak cikal, gaduh hiji adi awewe umurna ayena sambilan belas taunan, da beda tilu taun jeung kuring. Nah, adi eta teh, keur taun 2019 nikah. Da aya pamegeut nu ngalamar manehna ka imah. Atuh kuring jeung sakaluarga satuju wae, da adi geus embungeun disakolakeun deui oge (tong diturutannya lur :v)

Nah, ari kuring mah da can hayang nikah najan keur taun 2019 umur geus 20 taun oge. Nyaho teu? Lamun di lembur mah umur sakitu teh dianggap geus kolot ceunah, geus pantes nikah. Aduh, tepok jidat kuring. Pan teu kabeh jalmi hayang nikah umur sakitu nya heeuh? Menya kudu disamaratakeun?

Balik deui ka topik. Pas arek ngadekeutan keuna acara seserahan adi teh, abdi heran, meunang loba pertanyaan ti loba jalmi, nu kieu jenisna : kajeun teu dirunghal? Ikhlas teu dirunghal? Rahma daek dirunghal?

Nya kuring bingung bin ngarasa aneh keuna nu naranya kitu. Terus malik nanya. Dirunghal teh naon?

Pan dijawab tah, ari dirunghal teh dilengkah. Heeuh dilengkah ku adi nikahna. Ooh, cek kuring teh, nya kajeun atuh. Malah kuring mah ngadukung. Tapi, tetep bae da, loba keneh nu nanya kitu. Kajeun teu dirunghal?

Nepi ka calon mitoha adi manggil kuring ka imahna. Nanya, ikhlas teu neng, dirunghal? Nya kuring jawab ikhlas wae atuh. Da kuring mah can hayang nikah rek dipaksa sakumaha na oge ai can takdir mah. Laju kuring dipasihan icis saratus lima puluh rebu. Ceunah eta teh jeung tanda ngarunghal ku adi.

Kuring teh heran sabenerna keuna pamikiran loba jalmi. Sieun kuring teu ikhlas ceunah dirunghal alias dilangkah nikahna ku adi. Padahal, na jero hate, kuring mah teu ngarasa kumaha-kumaha, teu hawatos atau naon, kos nu diomong ku batur. Da kuring mah teu nyaho runghal teh naon. Jeung deuih, kuring mah mikirna jodoh mah urusan nu di luhur, arek sahandapeun tiheula, atawa saluhureun tihela, teu masalah bagi kuring mah. Da geus takdir.

Nah, eta carita nu ku kuring alaman kakait tradisi. Ari horeng teh dirunghal artina dilangkah nikahna, anak nu kolot ku anak nu leuwih ngora.

Ie sapangalaman kuring nya. Berbagi wae da ieu mah. Da na budaya suku lain ge aya mereun nya, kakait tradisi “runghal”, lain di Sunda wae. Coba maneh gaduh carita teu, kakait istilah runghal alias dilangkah nikah na?

Gadis yang Dimabuk Cinta

Image by unsplash

….

Aku melihatnya. Pada hari itu, sebuah peristiwa yang benar-benar menjadi mimpi buruk baginya. Padahal, hari itu seharusnya menjadi hari yang sangat indah baginya.

Bagaimana tidak?

Aku melihat sosoknya yang begitu cantik dibalut gaun putih bertabur mutiara dan manik, yang membuatnya tampak seperti bidadari. Senyumnya mengembang, tetapi terkadang ia terlihat khawatir kala melihat riuhnya para tamu undangan yang duduk di kursi-kursi. Ah, ya, dia sedang menunggu pangerannya, yang akan membawanya ke dalam istana kerjaan. Dan aku, hanya ingin ikut berbahagia, sebagai seorang pengagum rahasianya.

Tetapi siapa yang tahu, bahwa hari itu adalah hari yang paling buruk baginya…mungkin. setelah menungu berjam-jam, sang pangeran tak jua datang, hingga membuat semua orang mulai cemas, termasuk dirinya. Dan sesuatu yang ditunggu pun akhirnya datang, bukan sang pangeran, melainkan hanya kabar tentangnya. Kabar yang membuat banyak orang terkejut tak percaya, bahwa sang pangeran telah tiada, diambil yang kuasa, lewat tragedi menyedihkan yang menimpanya.

Bisa kau bayangkan bagaimana dirinya saat itu?

Aku yakin, kau pasti bisa menebaknya.

Hancur bagai kepingan cermin, rontok menjadi butiran dan jatuh ke tanah.

Sejak saat itu, senyuman hampir tak pernah lagi menghiasi wajahnya. Awan hitam mengelilinginya, karena langit yang biru tak kunjung muncul lagi.

Kulihat ke arah jendela, sinar matahari mulai menjelajahi semesta, begitu terangnya. Dia tetap bagai penuh keceriaan. Namun, yang harus kau tahu adalah, sinar itu tetap tidak bisa menerangi satu ruang di tempatku tinggal. Ruangan yang sedang kutuju, yaitu ruangan seorang gadis yang bisa disebut sebagai “si mawar rapuh”.

Sembari bersiul, kulangkahkan kaki pada salah satu pintu sebuah kamar. Kutempelkan sejenak telinga ke permukaan pintu tersebut, untuk memeriksa suara yang bertanda kalau-kalau dia sudah bangun. Ah, sepertinya dia belum terbangun.

Segera kuketuk pintu itu, dengan tujuan untuk membangunkan penghuni ruang yang masih terlelap. Dia harus menikmati sarapan pagi denganku. Wajib. Tak lama, muncul seorang perempuan dengan rambut bergelombang yang terurai, dengan lesung pipi, dari balik pintu. Dia tersenyum tipis saat melihatku.

“Sarapan sudah siap, Nona,” ujarku, bergaya gagah ala aktor Hollywood.

Dia mengangguk, izin merapikan rambut sebentar, lalu mengikutiku ke dapur. Bersiap menyantap sesuatu yang terhidang di meja makan. Kuperhatikan caranya makan, sungguh manis. Pelan dan rapi. Dia mengarahkan pandangannya ke arahku, dengan alis tertaut. Mungkin risih karena terus kutatap.

Lalu dia mulai memasang muka masam, yang bagiku sangat lucu dan menggemaskan.

Dia adalah perempuan yang gagal hidup bersama pangeran impiannya, yang kumaksud tadi. Dia telah kehilangan sang pangeran karena takdir, hingga membuat dia mengalami luka yang seakan abadi. Depresi, bahkan bisa disebut begitu.

Bahkan sering kutemui dia menenggak alkohol secara diam-diam, di dalam singgasananya. Tatapannya selalu sayu, seperti awan gelap yang menggantung di angkasa, yang sebentar lagi menguyurkan tangis. Tetesan air mata yang sering mengalir, lamunan, adalah hal yang biasa kulihat dari dirinya setiap hari.

Itu membuat rasa bersalahku semakin besar.

…atas semua yang telah kulakukan.

Tetapi, hari ini dia belum kembali pulang, ke tempat di mana aku dan dia hidup seatap. Dia hanya bilang ingin membeli kue kesukaannya di toko seberang jalan. Tetapi, entah ketika waktu sudah menujukkan bahwa telah lima jam dia pergi keluar, dia belum juga kembali. Aku mencoba menghubunginya lewat alat komunikasi berbentuk pipih-persegi, tetapi aku melihat alat komunikasi serupa yang merupakan miliknya, tertinggal di meja ruang tamu.

Aku yang mulai merasa cemas, segera mencari ke toko-toko di seberang jalan, bertanya pada orang-orang tentang perempuan ayu dengan rambut disanggul, serta berbalut gaun merah. Namun, tak juga kutemukan dia hingga menjelang senja.

Aku semakin bimbang tentangnya.

Mungkinkah…ah, tidak! Itu tidak akan terjadi!

Aku mempercepat langkah menelusuri setiap sudut kota, untuk mencari si mawar rapuh. Dia harus kutemukan, bagaimanapun caranya. Tetapi sekalipun langit telah menggelap yang menandakan bahwa sang malam akan segera tiba, dia tak juga kutemukan. Hingga di suatu persimpangan jalan, aku terpaksa harus menghentikan laju roda empat, karena adanya sebuah keriuhan tak biasa orang-orang di depan sana.

Aku turun dari roda empat, untuk melihat apa yang terjadi. Dan hasil dari rasa ingin tahuku itu ternyata sangat mengejutkan. Di antara kerumunan orang, kulihat seorang perempuan yang tak asing, sedang terbaring tak sadarkan diri di atas jalanan.

Apa yang terjadi?!

Beberapa puluh menit kemudian, aku telah sampai di dalam sebuah ruangan bernuansa warna putih, duduk sendirian di samping seorang wanita yang sedang terbaring tak sadarkan diri, dengan beberapa peralatan medis di tubuhnya. Tetapi, aku tak perlu terlalu khawatir, karena napasnya masih terdengar, detak jantungnya belum hilang, suhu tubuhnya masih hangat. Tanda bahwa dia masih ada di dunia ini, dan itu artinya, aku masih bisa hidup bersamanya.

Kupandangi wajahnya, dengan rasa sedih sekaligus bersalah. Sering aku berpikir, andai waktu dapat diulang, aku tidak pernah ingin mengenalinya. Karena bagiku, pertemuan dengannya adalah sebuah kekeliruan, yang membuatku begitu berambisi untuk memiliki dia seutuhnya.

Ah, tangannya terlihat bergerak. Beberapa saat kemudian, matanya terbuka perlahan, dan menoleh ke arahku. Tetapi reaksinya sungguh tak terduga, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar, berteriak berkali-kali dengan lengkingan yang mencekam.

“Pembunuh!! KAU PEMBUNUH!!”

Lalu dia memberontak dari tempat pembaringan, membuat peralatan medis di tubuhnya terlepas secara paksa satu persatu.

Deg

Jantungku berdegup kencang, lalu para petugas medis berdatangan untuk menangani dia yang mengamuk.

Alangkah aku begitu menyesali, karena sejak saat itu, akal sehatnya telah hilang, dia terus tertawa dan menangis. Disusul dengan aku yang masuk ke balik jeruji besi, beberapa bulan kemudian, karena suatu kasus di masa lalu.

Kisah yang sungguh pahit. Andai aku bisa memprotes, aku ingin meneriaki dan mencaci orang yang menulis alur kisah hidupku yang durjana ini.

Kejam.

End.

Kucing Mati di Depan Tempat Dagang

Foto : IDNTimes

Pas awal tahun, kira-kira bulan April tahun 2020, aku kerja di kedai Fried Chicken alias ayam goreng, di daerah kecamatan Pasarebo, Jakarta Timur.

Yang punyanya orang Batak, baik banget walaupun konyol dan bawel dia, lucu. Nah, kedai ayam itu punya lima cabang di daerah sekitar sana yang letaknya gak terlalu berjauhan banget. Pas aku giliran jaga di cabang yang daerah jalan Haji Jusin, Ciracas, bos bilang gini “Neng, kamu kalau jaga di sini hati-hati. Orang-orang di sini pada “gitu”, jangan terlalu diakrabin ya, termasuk si pedagang toko susu yang di sebelah ruko kita ini,”

Maksudnya “gitu” mungkin artinya kurang baik dan semacamnya, mungkin ya. Aku tentu nggak langsung percaya gitu aja ya, kan belum tahu sendiri.

Dan setelah beberapa hari di cabang itu, memang sih aku ngerasain gelagat yang kurang mengenakan dari si mbak tukang toko susu di sebelah ruko kedai ayam, dia kayak jutek gimana gitu, agak ketus dan pernah agak marah ke rekan kerjaku gara-gara naruh barang belanjaan buat jualan ayam, terlalu ke lokasi dia,

Terus agen galon dan gas yang ada di seberang jalan juga tatapannya agak gimana gitu. Tukang warung yang agak sinis dan pembeli yang sinis juga ada.

Cuma itu sih yang kualami.
Tapi, pas aku dipindahin ke cabang lain, daerah Mana ya? Lupa. Mungkin jalan Mustika Ratu.

Dan dari situ, aku dengar laporan di grup chat wa kedai ayam, (jadi si bu bos bikin grup chat wa bersama para karyawannya buat bahas soal kerjaan kedai ayam di masing2 cabang dan sekalian buat laporan juga) itu yang karyawan di daerah Jalan Haji Jusin, udah hampir 5 kali ngelaporin ada kucing mati di depan rukonya!

5 kali berturut-turut, otomatis, kita mikirnya itu sengaja ditaruh di depan toko dong?

Si bu bos cuma bilang kuburin aja jasadnya. Dia cuma bilang, kalau ada orang yang nggak suka sama usaha dia di daerah situ.

Serius, aku yang baru pertama kali tau, agak kaget. Kok begitu banget ya? Kayak keji gitu. Itu pelakunya dapet kucing mati terus dari mana ya?

Ngerinya kalau kucing hidup terus dia bunuh, buat ditaruh di depan ruko kedai ayam. Kan gila banget!

Belum lagi nguburin jasad kucingnya itu agak susah kalau ngga punya lahan. Tau sendiri kan di Jakarta tuh lahan sempit, di sono rumah, di sini toko, gedung, jalan raya. Asal make lahan sembarangan entar dimarahin. Beda kalau di kampung, banyak lahan yang bahkan gak ada pemiliknya.

Untung aja ada lahan ruko di belakang walaupun kecil banget. Cukup lah buat nguburin jasad si kucing.

Gila bener lho orang, apalagi kalau sampai dia beneran bunuh si kucingnya. Kejam!

Maag Kronis, Bisa Menyebabkan Kematian?

Saya ingin berbagi sedikit cerita dan informasi tentang kesehatan kali ini, yang semoga saja bisa bermanfaat bagi kalian yang membacanya, ya. Sedikit cerita dari saya bahwa pada tanggal 30 Oktober tahun 2020 kemarin, saya mendapat kabar duka dari salah satu teman baik dunia maya yang tinggal di kota Brebes Provinsi Jawa Tengah, yaitu kabarnya bahwa almarhumah telah meninggal dunia pada usia yang masih sangat belia, yakni 18 tahun. Kabar ini saya dapat dari saudara aslinya di kampung halaman dan dia memberitahu saya bahwa almarhumah meninggal karena sakit lambung kronis yang dideritanya. Jadi, postingan ini terinsipirasi dari kabar duka yang saya alami tersebut. Pertanyaannya, apakah benar, penyakit lambung bisa menyebabkan kematian? Atau adakah di antara kalian yang pernah atau memiliki pengalaman tentang orang yang meninggal karena penyakit ini?

Oke, karena penyakit lambung yang dideritanya sudah sangat parah, maka itu dikategorikan sebagai maag kronis.

Dikatakan oleh para ahli kesehatan yang dirangkum dari beberapa sumber, penyakit maag memang tidak menyebabkan kematian secara langsung. Penyakit maag dapat memicu penyakit lain seperti pendarahan pada lambung, yang menjadi penyebab dari kematian tersebut.

Perlu diketahui bahwa maag adalah sebutan yang mempermudah kaum awam untuk menggambarkan berbagai jenis gangguan lambung seperti GERD/refluks asam lambung, tukak lambung, radang lambung/gastritis, infeksi perut karena bakteri.

Penyebab maag kronis

Ada beberapa faktor yang menyebabkan maag kronis, diantaranya adalah :

– infeksi bakteri H. Pylori

Infeksi oleh bakteri Heliobacter pylori ini bisa menyebabkan iritasi dan luka pada lapisan lambung. Ini adalah penyebab paling umum dari penyakit gastritis kronis yang bisa ditularkan melalui makanan, air, air liur dan cairan tubuh lainnya.

– iritasi pada lapisan lambung

Sama seperti infeksi bakteri, beberapa kebiasaan seperti di bawah ini yang dilakukan secara terus menerus, bisa menyebabkan iritasi lapisan lambung.

a. Penggunaan jangka panjang obat non-steroid anti-inflamasi (NSAID) seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen.

b. Stress parah

c. Paparan radiasi

d. Refluks empedu, karena cairan empedu masuk ke dalam lambung.

e. Terlalu sering dan banyak minum alkohol

– Reaksi autoimun

Autoimun sendiri adalah kondisi kekebalan tubuh yang menyerang tubuh yang sehat. Di sini, kekebalan tubuh menyerang lapisan dinding lambung. Kondisi ini menyebabkan sel-sel pada lapisan dinding pelindung lambung, meradang dan akhirnya rusak secara perlahan.

Tanda dan gejala maag kronis

– nyeri atau sakit perut di bagian atas
– perut kembung
– mual dan muntah
– muncul rasa terbakar di perut
– perut nyeri setelah makan
– merasa cepat kenyang dan perut penuh
– kehilangan selera makan
– sendawa berkali-kali
– berat badan menurun

Mengatasi maag kronis

Penyakit maag tidak bisa dianggap sepele, karena jika dibiarkan terus menerus, maka akan memicu banyak penyakit lainnya. Penangan maag dilakukan secara bertahap, dan banyak solusi pengobatan yang ditawarkan, seperti berikut ini.

– meminum obat antasida
– obat H-2 receptor blockers
– proton pum inhibitors (ppi)
– antibiotik
– suplemen

Cara mencegah maag

Cara pencegahan untuk penyakit maag kronis ini adalah dengan menghindari penyebab penyakit ini sendiri.

Semoga bermanfaat, dan jika kalian menginginkan informasi lengkap mengenai penyakit terkait, itu bisa ditelusuri dari sumber-sumber informasi terpercaya yang ada di media internet. Dan mohon maaf apabila banyak kesalahan dan kekurangan pada tulisan ini.

Terima kasih!

Sumber referensi

Halodoc.com
Hellosehat.com
Alodokter.com
Kompas.com

Sumber gambar : Hellosehat.com

Banyak Rencana Tetapi Sulit Diwujudkan

Foto : animalworld

Sebenarnya, setelah tahu bahwa banyak hal di dunia ini yang bisa diekplorasi, aku menjadi memiliki banyak ide, serta hasrat untuk membuat banyak rencana. Sungguh pengetahuan tentang itu sangat membantuku, dan itu menjadi hal brilian yang kumiliki. Tetapi sayangnya, mewujudkan rencana menjadi nyata bukanlah hal yang mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan karena di samping semua rencana itu, ada banyak hal yang kupikirkan dalam hidup, terutama tentang finansial dan kesehatan. Ya, itu adalah hal yang sedikit menjadi keresahan dalam hidupku. Tubuh yang kurang sehat karena adanya gangguan penyakit, juga keuangan yang kurang memadai, waktu, pikiran dan tenaga yang terbatas juga diriku yang seringkali tidak siap mental, walaupun rencana-rencana yang kubuat bertujuan erat dengan keuangan, selain untuk mengedukasi, berbagi dan mewujudkan mimpi.

Di bawah ini adalah beberapa rencana (project) yang kupikirkan untuk membuatnya suatu saat nanti.

.Membuat channel youtube informatif yang bisa mengedukasi sekaligus mendatangkan pundi-pundi keuangan

.Membuat blog khusus budaya suku Sunda yang bertujuan untuk melestarikan dan mengenalkan budaya Sunda pada masyarakat seluruh negeri dan dunia sekaligus mendatangkan profit

.Membangun bisnis untuk membangun keuangan sekaligus membuka lapangan kerja

.Menulis novel yang sudah ada di kepala

Mungkin itu saja dulu, lain kali akan kutambahkan ketika pikiranku sedang benar-benar fokus. Di dunia ini, banyak sekali hal yang bisa dilakukan. Terlepas dari hanya sekedar hidup, makan, bekerja dan menikah, ketika kita berpikir untuk mengeksplorasinya.

Salam hangat dari yang dingin dan cuek ๐Ÿ™‚

Saat Kita Peduli, Saat Itulah Gelisah Menghampiri

Foto : Nike Threader

Sร at Kita Peduli, Saat itulah Gelisah Menghampiri

Oleh : Red

Perlu kau ketahui bahwa tulisan ini tidak menggunakan sumber referensi manapun selain diriku sendiri. Ini murni 100% dari yang aku rasa dan kualami lalu kemudian kuingat dan kutelisik untuk selanjutnya kutuangkan dalam deretan aksara. Apa kau juga merasakan apa yang kutulis ini? Apa kamu setuju?

Ini bukan hanya soal perasaan dalam hubungan asmara, tetapi juga hal lain/sesuatu yang lain, yang lebih luas konteksnya.

Tanpa kita sadari, saat kita peduli pada sesuatu, misal kita tertarik, suka, cinta, menginginkan, maka dari sanalah, kita akan merasa gelisah.

Maksudnya bagaimana?

Begini, biar aku jelaskan sedikit saja, dan setelah itu, kau bisa memikirkannya, lalu menilai benar atau tidak, apa yang kuungkapkan ini.

Misalnya :

Ketika kita melihat 15 buah stok cokelat yang sedang dijual dalam harga diskon 30% di toko online, tiba-tiba kita ingin membelinya, tetapi karena belum gajian, maka kita belum punya uang yang cukup untuk membelinya dan akhirnya, pembeliannya ditunda. Lalu, selama menunggu masa gajian tersebut, kita merasa was-was, takut cokelat harga diskon itu habis atau harganya kembali normal. Nah, bagaimana?

Atau begini, contoh yang paling umum, dan menarik (mungkin) :

Ketika kita menyukai seseorang, katakanlah orang tersebut sebagai crush alias gebetan. Apa yang kita rasakan, ketika : dia yang biasanya membalas pesan kita dengan cepat, lalu sekarang menjadi lebih lambat, bahkan sangat lambat.

Apa yang dirasakan?

Pikiran negatif mulai berseliweran di kepala.

Apa dia marah padaku?
Apa aku punya salah padanya?
Apa dia sudah tidak menyukaiku?
Apa dia sudah dekat dengan yang lain?
Apa dia…?

Dan seterusnya.

Coba bandingkan dengan :

Orang yang tidak kita sukai (bukan benci), tetapi orang yang kita tidak memiliki perasaan khusus terhadapnya.

Ketika dia mengirim pesan, ada tiga kemungkinan kita membalasnya : 1. Cepat (karena merasa tidak enak, merasa takut tidak sopan, dsb) , 2. Lambat (karena sibuk, karena merasa tak perlu, dsb) 3. Diabaikan sangat lama (entah karena lupa, sibuk, tidak terlihat pesannya tertimpa oleh pesan lain, atau memang tak ingin membalasnya).

Dan kita tidak memikirkan apakah dia akan marah atau tidak, akan membalas lagi atau tidak.

Atau begini :

Kita melihat anak kecil mengemis di jalan, lalu kita memberinya uang dan merasa miris dengannya, kasihan dan tak tega, melihat anak yang seharusnya masih dalam masa sekolah, malah harus mencari nafkah.

Coba bandingkan jika kita masa bodoh dengan tiga contoh di atas.

Bodoamatlah, orang gua gak doyan cokelat. Mau diskon 30%, 50% kek, gak bakal gua beli.

Bodoamatlah, orang gua gak punya perasaan apa-apa ke dia, buat apa dipikirin?

Bodoamatlah, yang penting tuh anak bukan anak gua.

Nah, dilupakan begitu saja, tanpa terpikirkan lagi.

Dari sini, jelas, bahwa rasa peduli dalam bentuk apapun, entah itu, ingin, suka, tertarik, cinta, simpati, kasihan pasti akan mendatangkan kegelisahan. Apalagi, jika hal tersebut berhubungan langsung dengan kita.

Tetapi, seperti kita ketahui, bahwa semua hal selalu memiliki dua sisi. Yaitu positif dan negatif. Ketika kita peduli dan bersimpati pada kesusahan orang, itu jelas baik. Tetapi ketika kita peduli pada sesuatu tetapi bentuknya adalah overthinking alias berpikir yang berlebihan, tentu itu akan menyusahkan diri kita sendiri.

Jadi, bijaklah dalam menanggapi sesuatu.

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Malaikat

Foto : Unsplash.com

Saat aku melihat seseorang yang tampak begitu sabar, timbul rasa bahwa aku juga ingin seperti dia. Aku lihat seorang yang disakiti dan dihina orang lain, sementara dia hanya menangis tanpa ada niatan membalas perbuatan orang tersebut terhadapnya, dia hanya berusaha untuk bersabar. Padahal, aku sendiri yang melihat orang tersebut disakiti, rasanya ingin menghajar orang yang menyakitinya. Bagaimana mungkin dia sesabar itu?

Aku melihat seorang laki-laki yang sering dimarahi istrinya, dan menghadapi puteranya yang nakal, rewel, manja. Tetapi, sekalipun dia mungkin merasa kesal, namun dia menghadapi mereka dengan sabar, tidak ada kata hardikan ataupun caci maki yang keluar dari mulutnya. Padahal, orang lain yang melihatnya seringkali merasa iba, kasihan, seolah tidak dihargai oleh istrinya.

Aku melihat seorang wanita yang begitu sabar walaupun memiliki seorang suami dengan penghasilan pas-pasan, lalu dia juga ikut mencari nafkah untuk membantu kehidupan keluarga. Dan masih banyak lagi, pemandangan tentang orang-orang yang begitu memiliki sikap tenang, sabar, hangat, bijaksana?

Tetapi bagaimana dengan diriku sendiri?

Aku sendiri merasa sangat jauh dari semua karakter orang-orang seperti di atas. Bagaimana tidak?

Aku yang memiliki tipe kepribadian introvert, yang identik dengan perilaku tidak mudah bergaul, sulit bersosialisasi, tidak banyak bicara dan cenderung tertutup. Walaupun tidak sepenuhnya aku tertutup, pada orang-orang tertentu aku akan memberitahukan rahasia pribadi. Dan ada saatnya aku banyak bicara, di depan orang-orang yang aktif berbicara padaku, aku juga akan aktiv ikut mengobrol. Atau kepada orang yang dimana aku merasa nyaman terhadapnya, aku akan bicara lebih banyak.

Tetapi, bukan sifat-sifat itu yang kumasalahkan, melainkan perilaku burukku, attitude yang kurang baik, dan sulit diubah, yang seringkali kusesali.

Aku merasa bahwa aku ini…

Dingin, tidak ramah, egois, cuek, kurang simpatik, terkesan tidak peduli…pokoknya, orang yang sudah sangat dekat denganku di kehidupan sehari-hari, pasti tahu bagaimana sifatku yang sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi ketika aku semakin dewasa, pikiran-pikiran seperti, “buat apa aku peduli, jika mereka tidak peduli padaku?”, “apa untungnya jika aku peduli?”, “mereka saja tidak peduli, untuk apa aku peduli?”, “jika dia tidak peduli, kenapa aku harus peduli?”

Karena nuraniku berkata bahwa itu adalah pikiran yang tidak pantas. Sementara batinku mengatakan bahwa dia ingin agar aku menjadi orang yang manusia yang tangguh dan kokoh. Bukan di dalam kekuatan fisik yang utama, melainkan dalam karakter dan kepribadian. Dia ingin agar aku mampu menjadi manusia yang bijaksana, bersabar, hangat dan penyayang. Tetapi bagaimana caranya?

Oh, bukan. Bukan caranya yang bagaimana.

Dengar, aku ingin mengatakan bahwa betapa sulitnya mengalahkan sisi egoku yang negatif. Oh iya, aku juga seorang yang mudah tersulut dan emosional. Perilaku ramah yang terlihat, itu palsu. Aku menunjukkannya pada publik yang bukan keluargaku, aku hanya berusaha agar terlihat baik dan tidak menyakiti lebih banyak orang.

Seandainya, Tuhan memberikanku sepotong hati malaikat, agar diriku menjadi lebih baik, aku pasti sangat beruntung. Tetapi semua keputusan, ada di tangan-Nya.

Pinggir kasur, 27-12-2020

Salahkah Marah Kepada Tuhan?

Foto : andreansatmadja

Di saat kita kecewa, bersedih, frustasi dalam tingkat yang menurut kita sudah sangat menyakitkan? Bahkan dengan cobaan yang bertubi-tubi dalam hidup mungkin? Misalnya kita mendapat kesedihan seperti kecelakaan yang menyebabkan kita menjadi cacat, atau salah satu orang yang kita cinta meninggal, bangkrut dalam bisnis, ditipu milyaran rupiah oleh orang yang menjanjikan kerjasama bisnis, dibully, dihina oleh lingkungan, dikucilkan oleh saudara dan orangtua sendiri, dikhianati oleh orang yang kita percayai? Dan masih banyak lagi yang mungkin dialami oleh salah satu di antara kalian?

Karena, saya yakin, ada orang di dunia ini yang merasa marah dan kecewa pada Tuhan.

Termasuk saya sendiri pun demikian, pernah mengalaminya, dalam hal yang cukup menyedihkan yang tidak ingin saya ceritakan. Saya juga sering mendegar dan melihat keluhan orang yang kecewa dengan takdir, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, hanya saja, jika di dunia maya, saya langsung menghapus pertemanan dengan orang tersebut, karena takut berpengaruh pada diri saya yang mentalnya masih labil walau sudah berusia 21 tahun ini.

Mereka menyesal telah dilahirkan, padahal mereka tidak minta dilahirkan. Ada yang bilang “kita adalah korban dari keputusan Tuhan”. Atau mempertanyakan untuk apa dilahirkan jika hidup begini dan begini?

Saya pun pernah mengalami salah satu hal itu. Marah dan kecewa dengan takdir yang terkadang menurut kita tidak adil. Misal begini, kita sedang kesusahan mencari sesuap nasi, sedangkan di depan kita, ada seseorang yang marah karena dia dibelikan makanan yang salah oleh orang tua, istri atau suaminya, lantas dia membuang makanan tersebut begitu saja.

Apa itu tidak menyakitkan?

Atau begini, kita cacat, tidak memiliki kaki kiri, sementara kemarin kita melihat orang yang mengeluhkan wajahnya yang ditumbuhi dua bintik merah dan dia merasa sangat jelek, dia bilang “Aku ingin punya wajah yang berkilau (glowing)”

Apa itu menyakitkan?

Saya tidak tahu, setiap orang berbeda-beda. Tetapi jika kita mau mengadu nasib, jujur, rasanya sangat menyakitkan. Ingin rasanya mencaci pada orang-orang yang diberi kelebihan lebih dari kita tetapi tidak pandai mensyukurinya.

Atau ketika kita mengalami kesusahan berupa tertipu uang bisnis sebesar dua milyar, kemudia tiba-tiba ada kabar bahwa anak kita mengalami kecelakaan yang menyebabkan dia tewas di tempat, sedihkan kita?

Lalu kita marah pada Tuhan, karena kita tahu bahwa Dia-lah pemilik skenario dan alur kehidupan ini, Dia-lah yang menentukan takdir setiap makhluk. Apa itu wajar?

Bagi saya, kecewa, frustasi, sedih dan marah adalah hal yang wajar terjadi pada manusia, bahkan hewan juga mengalaminya. Tetapi untuk marah pada Tuhan, bukankah tidak disarankan? Dan malah dilarang?

Silahkan berpendapat dengan sopan. Terima kasih!

Tulisan : pribadi
Foto : andreansatmadja

Monster Kota ๐Ÿ‘น

Malam itu, Ricard si gelandangan kota Saint Petersburg, baru saja pulang dari mengantri makanan gratis yang disediakan warga di tempat pembagian makanan khusus kaum gelandangan. Dia akan pulang ke lorong ruko tempatnya biasa tidur pada pukul 21.31 waktu setempat, ketika sebuah mobil berhenti di sebelah kiri tempat ia beristirahat. Lalu dari dalam mobil, muncul tiga orang berpakaian serba hitam dengan tubuh yang kekar seluruhnya.

Mereka berpostur tinggi-besar, dan yang membuat Ricard terkejut adalah saat ketiga orang tersebut menghampiri dia dengan langkah cepat, dan dia tidak sempat melarikan diri. Sehingga ketiga orang misterius itu membekuknya, menempelkan tisu berisi obat bius ke bagian hidung Ricard.

Seketika Ricard pingsan dan dengan mudahnya tiga pria kekar itu memasukkan tubuhnya ke dalam mobil mereka, lalu membawanya ke sebuah tempat misterius.

Ternyata mereka membawa Ricard pada sebuah bangunan rumah yang cukup luas. Di dalam sebuah ruagan berisi banyak cairan aneh dan tabung-tabung kimia, dua orang pria sudah menunggu, mereka menyambut tubuh Ricard yang dibopong lalu diletakkan di atas sebuah meja yang berada di bawah lampu yang cukup terang, mirip sekali dengan tempat untuk melakukan operasi pasien rumah sakit, tetapi bedanya, mereka tidak akan membedah Ricard. Dua orang pria itu telah bersiap dengan beberapa macam jarum suntik dan cairan kimia tentunya.

Wajah dua “dokter” tersebut tertutup oleh masker bedah berwarna hijau toska dan mereka segera memulai aksinya, tanpa menunggu waktu lama. Salah satu dari mereka Menusukkan jarum suntik pada lengan kiri Ricard, lalu beberapa cairan lainnya yang memunculkan reaksi aneh pada tubuh Ricard. Di sana, tampak tubuh pria berusia lima puluh tiga tahun tersebut, mengejang dan bergerak-gerak, tetapi matanya tetap tertutup.

Sekitar satu jam kemudian, barulah mereka berhenti melakukan eksperimen pada tubuh Ricard dan memutuskan untuk beristirahat. Tetapi ketika tengah malam, terdengar suara sangat berisik dan berdentum dari ruang bawah tanah, tempat tubuh Ricard disimpan tadi. Dengan terkantuk-kantuk bercampur kaget, dua dokter dan tiga pengawalnya yang bertubuh kekar tersebut, mendatangi ruang bawah tanah, dan betapa terkejutnya mereka, ketika melihat lubang besar yang menganga di atap ruangan, hingga membuat langit malam dan deretan bintang terlihat dari sana.

“Luar biasa,” decak salah satu dokter, “Kita berhasil!”

“Dia berubah menjadi makhluk yang luar biasa.”

Bersambung…

Create your website at WordPress.com
Get started